Kepada Aditya, pecinta langit.
trimakasih ya atas foto yang akhirnya kupajang di halaman blog ini.
Telah kau curi hadirku ketika kusenyumi leluhur di makam itu. pengalaman indah berlibur bersamamu. disepanjang perjalanan, tak kaubiarkan setiap kesan menguap. setiap saat adalah momentum yang hendak kau tangkap untuk diabadikan bersama kameramu, menjadi hadiah bagi setiap sahabat.
kuamati kamu selalu mengendap-endap meredam bunyi diruang senyap. Kau intip dari lubang sempit rana kameramu: seakan tak rela bunyi langkah kakimu mengganggu kusuknya sawah, pucuk padi, gunung, simbok tua menggendong kayu, langit , dan … apa saja yang kaujumpai. kau rengkuh seluruh hadir mereka dalam memori kameramu dan kau kunci rapat dengan klick tombol putih di lubuk hati. semua terkumpul menjadi sahabat.
manusia dan alam bukankah sebenarnya saling memotret? setiap saat di mana seluruh diri bangun dari lamunan, bersila di atas kesadaran (dari awake from menjadi awareness), pada saat yang sama seluruh semesta adalah senyuman. Dan… senyuman itu dipotret oleh SANG SENYUM dan tersimpan di kartu memori keabadian (eternal memory card).
Kawan dan saudari-saudaraku,